作詞作曲/馬場俊英さん
朝の光りに目を覚ますと この頃は少しせつなくて君を知らないでいた頃は なんでもなかったのに小さなことも知りたいから いつでもそばにいたいけれど急ぎ過ぎないで少しずつ 伝えられたらいいねあんまり会えなくて 少し淋しいけど君が好きなこと夢中でしてるなら それが好き 僕は好き雨の日は雨 晴れたら風 曇りの朝は曇り空に似合う言葉を選んで君に この詩を贈るよグッド・モーニン 今日もがんばろうそうさ 僕は今日も君が好き次はダメだけどその次の 日曜日には何処かに行こうだからそれまで自分のことを ちゃんとやらなきゃダメさ何か足りなくて いつも淋しいけどたまに君の嬉しい話 聞けるような 日々が好き 僕は好き誕生日に花 記念日に歌 朝昼晩にメールを書くよ好きな言葉をつないで君に この愛を贈るよグッド・モーニン 今日もがんばろうそうさ 僕は今日も君が好きグット・モーニン 今日もがんばろうそうさ 僕は今日も君が好き
By David McAlary
Washington08 January 2007
U.S. researchers have discovered a new source of stem cells that appear to hold almost as much promise for regenerating human tissue as the controversial embryonic stem cells. The scientists have identified them in the amniotic fluid that protects an unborn child. VOA’s David McAlary reports.It took researchers from Wake Forest and Harvard Universities seven years of complicated laboratory testing to show that the amniotic cells they had found were truly stem cells. This is because the fluid is filled with many other kinds of cells the embryo casts off as it develops.Stem cells are unprogrammed cells that can develop into tissue. They are a reserve the body calls upon to replace cells in organs. Some stem cells are limited to becoming certain types of tissue, such as so-called adult stem cells found in any person at any age. But the type of stem cell in the unborn can turn into any tissue in the body and are highly prized for research into therapies for diseases.Yet, these fetal stem cells are controversial because they are taken from discarded embryos. Opponents of fetal stem cell research argue that it encourages the destruction of embryos. In the United States, President Bush has restricted government funding for fetal stem-cell studies.The Wake Forest and Harvard University investigators say the amniotic stem cells might be almost as versatile as the embryonic type and can be extracted without harm to the fetus or the mother at any time during gestation or from the placenta after birth.Anthony AtalaAnthony Atala“That is important because then you have a very nimble cell that you can drive to become anything you want it to become, hopefully,” said Anthony Atala.Anthony Atala is a Wake Forest scientist. In a paper in the journal Nature Biotechnology, he and his colleagues report that in laboratory dishes, they were able to coax amniotic stem cells into differentiating into cells for fat, bone, muscle, blood vessels, nerves, and the liver.In mice, they used the nerve cells to replace damaged brain tissue and bone cells to fuse into healthy bone.”We believe that this will be just one more source of stem cells for research and hopefully someday for clinical application,” he said.The reaction to the finding is positive from opponents of embryo destruction for research. A spokesman for the U.S. Conference of Catholic Bishops, Richard Doerflinger, calls the discovery very good news.”It means that embryos that some researchers have been looking at as just research material might actually provide beneficial stem cells if you let them live and be born,” said Richard Doerflinger.Stem cell researchers generally are cautiously hopeful about the medical potential of the amniotic stem cells. News reports quote several as saying the cells might not be quite as versatile, or, as scientists say, “pluripotent” as the embryonic type, but are nevertheless a major step forward in the field.Others say studies into embryonic stem cells should continue.Anthony Atala says only further research will tell what the potential is for the amniotic variety.”The cells are pluripotent, just like human embryonic stem cells, but we do not know what the extent of therapy will be yet with these cells,” he explained. “Of course, we do not know that yet human embryonic stem cells either, but time will tell for all these cells types.”Atala warns that his work is in its early stages and still several years away from use in a patient.
VOA News – Scientists Find New Stem Cell Source in Amniotic Fluid
Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari
Fiqh, 22 – November – 2003, 12:32:20
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari raya maka beliau menjawab [Majmu Al-Fatawa 24/253] : “Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Id : Taqabbalallahu minnaa wa minkum. (yang artinya) : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian” Wa ahaalallahu ‘alaika. Dan ucapan selainnya, ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka mengerjakannya. Dan para imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Imam Ahmad dan selainnya, akan tetapi Imam Ahmad berkata : Aku tidak pernah memulainya mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya, karena menjawab tahiyyah (ucapan selamat) hukumnya wajib. Adapun mendahuluinya, dengan mengucapkan tahniah (ucapan selamat) bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.[Dicantumkan Al Jalal As Suyuthi menyebutkan dalam risalahnya " Wushul Al Amani bi Ushul At Tahani" beberapa atsar yang berasal lebih darisatu ulama Salaf, di dalamnya ada penyebutan ucapan selamat. Kitab itu dicetak bersama ; Al Haari lil Fatawa 1/81-82, merujuklah padanya. Lihat pula al Maudhu' fi Ma'rifatul Hadits al Maudhu' oleh Al 'Allamah 'Ali al Qaari (87) dengan ta'liq muhaqiq atasnya] Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[Fathul Bari 2/446] : “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya) : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”. Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka. Imam Ahmad menyatakan : “Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)” [Lihat Al Jauharun Naqi 3/320. Berkata Suyuthi dalam 'Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan] Adapun ucapan selamat : (Kullu ‘aamin wa antum bikhair) atau yang semisalnya seperti yang banyak dilakukan manusia, maka ini tertolak tidak diterima, bahkan termasuk perkara yang disinggung dalam firman Allah (yang artinya) : “Apakah kalian ingin mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik.?”
Re: [assunnah] tanya tentang bermaafan di hari raya iedul firti
Penulis: Adid Adep DwiatmokoMuroja’ah: Al Ustadz Aris Munandar -hafidzohulloh-
Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa. Namun, jika kita tinjau perayaan lebaran (’Iedul Fitri) yang telah kita laksanakan, sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan keinginan Alloh dan Rosul-Nya? Atau malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya, dengan sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia? Untuk mengetahui perihal ini, mari kita simak bersama bahasan berikut.Definisi ‘IedKata “ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata “al ‘aud” yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan “al ‘ied” karena pada hari tersebut Alloh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan)Perlu diperhatikan, saat ini telah menyebar di kalangan masyarakat, bahwa makna “iedul fitri” adalah kembali kepada fitroh (suci) karena dosa-dosa kita telah terhapus. Hal ini kurang tepat, baik secara tinjauan bahasa maupun istilah syar’i. Kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna “iedul fitri” demikian, seharusnya namanya “iedul fithroh” (bukan ‘iedul fitri). Adapun dari sisi syar’i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa.Dari Abu Huroiroh berkata: “Bahwasanya Nabi shollallohu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka….’ (HR. Tirmidzi dan Abu dawud, shohih) (As Sunnah 05/I, Ustadz Abdul Hakim). Oleh karena itu, makna yang tepat dari “iedul fitri” adalah kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa).Pensyariatan ‘Ied (hari raya) Adalah TauqifiyyahHari raya (tahunan) yang dimiliki oleh kaum muslimin, hanya ada dua, yaitu ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. Adakah hari raya yang lain? Jawabnya: tidak ada. Karena pensyariatan hari raya merupakan hak khusus Alloh ‘azza wa jalla. Suatu hari dikatakan hari raya apabila Alloh menetapkan bahwa hari tersebut adalah hari raya (’ied). Namun, jika tidak, kaum muslimin tidak diperkenankan merayakan atau memperingati hari tersebut. Alasannya adalah hadits Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Anas rodhiyallohu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam datang ke Madinah dan (pada saat itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang dipergunakan untuk bermain (dengan permainan) di masa jahiliyyah. Lalu beliau bersabda: ‘Aku telah datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (’Iedul Adha) dan hari fitri (’Iedul Fitri)’” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shohih)Dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah saat itu adalah hari Nairuz dan Mihrojan, yang dirayakan dengan berbagai macam permainan. Kedua hari raya ini ditetapkan oleh orang-orang yang bijak pada zaman tersebut karena cuaca dan waktu pada saat itu sangat tepat/bagus. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Tatkala Nabi datang, Alloh mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari raya pula yang Alloh pilih untuk hamba-hamba-Nya. Sejak saat itu, dua hari raya yang lama tidak diperingati lagi. Berdasarkan hal ini, pensyariatan hari raya adalah tauqifiyyah (sesuai dengan perintah Alloh). Seseorang tidak diperbolehkan menetapkan hari tertentu untuk perayaan/peringatan kecuali memang ada dalil yang benar dari Alloh (Al Qur’an) maupun Rosul-Nya (Al Hadits). Sehingga tidak benar, apa yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin saat ini, dengan melakukan berbagai macam peringatan/perayaan yang sama sekali tidak ada tuntunannya. Di antaranya: peringatan/perayaan maulid Nabi, Isro Mi’roj, Nuzulul Quran, hari Kartini, hari ibu, dan hari ulang tahun.Tuntunan Nabi Saat Hari RayaPerayaan ‘Iedul Fitri maupun ‘Iedul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh. Dan ibadah tidak terlepas dari dua hal, yang semestinya harus ada, yaitu: (1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Alloh semata dan (2) Sesuai dengan tuntunan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya; di antaranya:a. Mandi Sebelum ‘Ied. Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia). Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih). Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib, “Hal-hal yang disunnahkan saat iedul fitri (di antaranya) ada tiga: berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shohih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan)b. Makan di Hari Raya. Disunnahkan makan saat ‘iedul fitri sebelum melaksanakan sholat dan tidak makan saat ‘iedul adha sampai kembali dari sholat dan makan dari daging sembelihan kurbannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata: “Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat ‘Iedul Fitri. Seakan-akan Rosululloh mencegah persangkaan ini. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan)c. Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya. Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim). Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Alloh, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.d. Berbeda Jalan antara Pergi ke Tanah Lapang dan Pulang darinya. Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rosululloh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan sholat, jika telah selesai sholat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih)Diperbolehkan saling mengucapkan selamat tatkala ‘iedul fitri dengan “taqobbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Alloh menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan “a’aadahulloohu ‘alainaa wa ‘alaika bil khoiroot war rohmah” (Semoga Alloh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat) sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia)Jika Terkumpul Hari Jum’at dan Hari Raya Dalam Satu HariJika hari raya dan hari Jumat berbarengan dalam satu hari, gugurlah kewajiban sholat Jum’at bagi orang yang telah melaksanakan sholat ‘ied, namun bagi Imam hendaknya tetap mengerjakan sholat Jum’at agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan orang yang belum sholat ‘ied. Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Diperbolehkan bagi mereka (kaum muslimin), jika ‘ied jatuh pada hari Jum’at untuk mencukupkan diri dengan sholat ‘ied saja dan tidak menghadiri sholat Jumat.” (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia)Hal-Hal yang Terkait Sholat Ied Secara RingkasKarena terbatasnya jumlah halaman, berikut kami ringkaskan hal-hal yang terkait dengan sholat ‘ied, di antaranya; (1) Dasar disyari’atkannya: QS. Al Kautsar ayat 2, dan hadits dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Aku ikut melaksanakan sholat ‘ied bersama Rosululloh, Abu Bakar dan Umar, mereka mengerjakan sholat ‘ied sebelum khutbah” (HR. Buhori dan Muslim). (2) Hukum sholat ‘ied: fardhu ‘ain, menurut pendapat terkuat. (3) Waktu sholat ‘ied: antara terbit matahari setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari (waktu Dhuha), menurut kebanyakan ulama. (4) Tempat dilaksanakannya: disunnahkan di tanah lapang di luar perkampungan (berdasarkan perbuatan Nabi), jika terdapat udzur dibolehkan di masjid (berdasarkan perbuatan Ali bin Abi Tholib) (5) Tata cara sholat ‘ied: dua roka’at berjama’ah, dengan tujuh takbir di roka’at pertama (selain takbirotul ihrom) dan lima takbir di roka’at kedua (selain takbir intiqol –takbir berpindah dari rukun yang satu ke rukun yang lain) (6) Adzan dan iqomah pada sholat ‘ied: tidak ada adzan dan iqomah, atau seruan apapun sebelum dilaksanakan sholat karena tidak adanya dalil untuk hal tersebut. (7) Khutbah pada sholat ‘ied: satu kali khutbah tanpa diselingi dengan duduk, menurut pendapat yang terkuat. (8) Qodho’ sholat ‘ied jika terluput: tidak perlu mengqodho’, menurut pendapat yang terkuat.Kemungkaran Yang Biasa Dilakukan Tatkala ‘Iedul Fitri1. Tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir dalam pakaian dan mendengarkan musik/nyanyian (kecuali rebana yang dimainkan oleh wanita yang masih kecil). Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, sanadnya hasan) dan sabda Nabi yang lain, “Akan datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan (padahal hukumnya haram) perzinaan, pakaian sutra bagi laki-laki, khomr (sesuatu yang memabukkan), dan alat musik… (HR. Al Bukhori secara mu’allaq dan Imam Nawawi berkata bahwa hadits ini shohih dan bersambung sesuai syarat shohih). Dan Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu mengatakan bahwa yang dimaksud ‘lahwal hadits’ (perkataan yang tidak bermanfaat) dalam surat Luqman ayat 6 adalah al ghinaa‘ (nyanyian).2. Tabarruj-nya (memamerkan kecantikan) wanita, dan keluarnya mereka dari rumahnya tanpa keperluan yang dibenarkan syariat agama. Hal tersebut diharamkan di dalam syari’at ini, di mana Alloh berfirman, “Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah sholat serta tunaikanlah…” (QS. Al Ahzab: 33). Dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah dilihat oleh Nabi: “….salah satu di antaranya adalah wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang (tidak menutup seluruh tubuhnya, atau berpakaian namun tipis, atau berpakaian ketat) yang melenggak-lenggokkan kepala. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga.” (HR. Muslim)3. Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah yang sudah sangat merata. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirohmati Alloh. Padahal perbuatan ini adalah haram berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam, “Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal dia sentuh.” (lihat Silsilah Al Ahadits As Shohihah 226) (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan)4. Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘ied. Tidak terdapat satu dalil pun yang menunjukkan perintah Alloh ataupun tuntunan Nabi untuk ziarah ke kubur pada saat ‘Iedul Fitri. Ziarah kubur memang termasuk ibadah yang disyariatkan, namun, pengkhususan waktu untuk ziarah saat Iedul Fitri membutuhkan dalil. Jika tidak terdapat dalil, perbuatan tersebut, bukan tuntunan Nabi dan tidak boleh dilaksanakan. Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal suatu amalan (untuk tujuan ibadah) di mana tidak termasuk dalam urusan kami, maka amalnya tersebut tertolak (tidak akan diterima).” (HR. Muslim)5. Begadang saat malam ‘Iedul Fitri. Banyak di antara kaum muslimin yang menghidupkan malam ‘ied dengan takbir via mikrofon. Hal ini sangat mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat. Hukum mengganggu orang lain adalah haram. Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim). Sehingga jika memang hendak bertakbir, hendaknya tidak dengan suara yang keras. Ada lagi di antara kaum muslimin yang menjadikan malam ‘ied untuk begadang dengan bermain catur, kartu atau sekedar ngobrol tanpa tujuan. Akibatnya, tatkala pagi datang, kebanyakan dari mereka sulit menjalankan sholat subuh secara berjamaah. Bahkan ada yang sampai ogah-ogahan menjalankan sholat ‘ied.Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga Alloh memberikan balasan yang baik bagi yang menulis, membaca, dan yang menyebarkannya.
Muslim.or.id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah » Arsip » Bimbingan Idul Fitri
H. Hirose 1 *, N. Sakuma 1, N. Kaji 1, T. Suhara 1, M. Sekijima 1, T. Nojima 2, J. Miyakoshi 3
1Research Division for Advanced Technology, Kashima Laboratory, Mitsubishi Chemical Safety Institute Ltd., Kamisu, Japan2Division of Electronics and Information Engineering, Graduate School of Hokkaido University, Sapporo, Japan3Department of Radiological Technology School of Health Sciences, Faculty of Medicine, Hirosaki University, Hirosaki, Japanemail: H. Hirose (h-hirose@ankaken.co.jp)*Correspondence to H. Hirose, Kashima Laboratory, Mitsubishi Chemical Safety Institute Ltd., 14 Sunayama, Kamisu, Ibaraki 314-0255, Japan.Funded by: NTT DoCoMo, Inc., Japan
Keywordsradiofrequency radiation • apoptosis • stress • A172 cells • IMR-90 fibroblasts
Abstract
A large-scale in vitro study focusing on low-level radiofrequency (RF) fields from mobile radio base stations employing the International Mobile Telecommunication 2000 (IMT-2000) cellular system was conducted to test the hypothesis that modulated RF fields induce apoptosis or other cellular stress response that activate p53 or the p53-signaling pathway. First, we evaluated the response of human cells to microwave exposure at a specific absorption rate (SAR) of 80 mW/kg, which corresponds to the limit of the average whole-body SAR for general public exposure defined as a basic restriction by the International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection (ICNIRP) guidelines. Second, we investigated whether continuous wave (CW) and wideband code division multiple access (W-CDMA) modulated signal RF fields at 2.1425 GHz induced apoptosis or any signs of stress. Human glioblastoma A172 cells were exposed to W-CDMA radiation at SARs of 80, 250, and 800 mW/kg, and CW radiation at 80 mW/kg for 24 or 48 h. Human IMR-90 fibroblasts from fetal lungs were exposed to both W-CDMA and CW radiation at a SAR of 80 mW/kg for 28 h. Under the RF field exposure conditions described above, no significant differences in the percentage of apoptotic cells were observed between the test groups exposed to RF signals and the sham-exposed negative controls, as evaluated by the Annexin V affinity assay. No significant differences in expression levels of phosphorylated p53 at serine 15 or total p53 were observed between the test groups and the negative controls by the bead-based multiplex assay. Moreover, microarray hybridization and real-time RT-PCR analysis showed no noticeable differences in gene expression of the subsequent downstream targets of p53 signaling involved in apoptosis between the test groups and the negative controls. Our results confirm that exposure to low-level RF signals up to 800 mW/kg does not induce p53-dependent apoptosis, DNA damage, or other stress response in human cells. Bioelectromagnetics 27:494-504, 2006. © 2006 Wiley-Liss, Inc.
Wiley InterScience: Journal: Abstract
Assalaamu’alaykum wa Rahmatullaahi wa BarakatuhuBerdasarkan rapat Tim Komite Ru’yat Hilal Jepang Jumat, 22 September 2006 pukul 20.00-21.15 JST, diputuskan bahwa :Karena Jumat malam ini hilal tidak dapat dilihat di Jepang, tim Komite Rukyat Hilal yang terdiri dari berbagai perwakilan masyarakat muslim dan masjid di sekitar Tokyo memutuskan untuk mengikuti keputusan Malaysia sebagai negara muslim terdekat.Insya Allah 1 Ramadhan 1427 H akan jatuh pada hari Minggu, 24 September 2006Demikian pengumuman mengenai awal Ramadhan, mohon disebarluaskan kepada kaum muslimin di Jepang.Marhaban yaa Ramadhan!, Mohon maaf lahir dan bathin.Selamat menunaikan rangkaian ibadah Ramadhan.Wassalaamu’alaykum wa Rahmatullahi wa BarakatuhuPengurus KMII-Jepang
Keluarga Masyarakat Islam Indonesia – Jepang
Paul Salam Somohardjo:
Tidak Perlu Malu Menjadi Jawa
SEJAK sepuluh tahun terakhir, posisi masyarakat keturunan Jawa
di Suriname menguat secara politik. Hal itu terlihat dari adanya sejumlah
menteri dari keturunan Jawa, hal yang dahulu barangkali tidak terbayang
sama sekali. Begitu juga sejumlah anggota parlemen.
Berbicara tentang itu, tak mungkin melepaskan kiprah Paul Salam Somohardjo,
wong Jawa yang kini menjadi pangarsa De Nationale Assemblee
(DNA) atau Parlemen Suriname. “Wong Jawa ning Suriname, saiki bisa
diarani padha sejajar karo bangsa liya. Ora maneh luwih endhek,”
kata dia, dalam bahasa Jawa yang kental.
Sekadar catatan, Paul dan juga warga keturunan Jawa di Suriname lain,
umumnya tidak menguasai bahasa Indonesia. Mereka lebih menguasai bahasa
Belanda, yang merupakan bahasa resmi, bahasa Jawa, dan sedikit bahasa Taki-taki
(Sranang Tongo), bahasa keseharian warga Suriname.
“Kula mboten nyinau bahasa Indonesia. Tur maneh wong
Jawa ning Suriname ya mboten dunung. Bahasa mboten kangge,” terangnya.
Bagaimana kiprah warga keturunan Jawa di jagat perpolitikan Suriname?
Bagaimana relasi mereka dengan warga keturunan lain, seperti Hindustan,
Creole, atau Maroon yang memiliki jumlah lebih banyak? Bagaimana pula mereka
mempertahankan dan mewariskan identitas, yakni bahasa dan budaya Jawa kepada
generasi berikutnya?
Berikut petikan perbincangan dengan politikus yang disebut-sebut sebagai
kandidat presiden pertama dari keturunan Jawa itu, di sela-sela Kongres
IV Bahasa Jawa, di Hotel Patra Semarang, beberapa waktu lalu. Proses wawancara
berlangsung dalam bahasa Jawa, terutama ragam ngoko.
Bagaimana kiprah warga keturunan Jawa di Suriname, terutama pada
ranah politik?
Kalau dihitung, wong Jawa ada sekitar 15 persen dari 490.000-an
penduduk Suriname. Saat ini berada pada peringkat keempat, setelah Hindustan,
Creole, Maroon atau wong alasan.
Kendati dari sisi jumlah hanya nomor empat, awake dhewe (begitu
dia menyebut orang Jawa di Suriname) sudah mulai diperhitungkan. Itu antara
lain partai orang Jawa, yakni Pertjajah Luhur sekarang sudah dibuat partai
nasional. Memang semula, bibit kawite hanya beranggotakan orang
Jawa, sekarang ada juga Hindustan, China, Creole, dan lain-lain.
Itu didasari pertimbangan, orang Jawa tidak mungkin menapak posisi yang
diperhitungkan, jika berjalan sendiri. Karena itu, Pertjajah Luhur diperluas,
tidak hanya menjadi partai orang Jawa, tapi juga suku bangsa lain yang
ada di Suriname.
Pada pemilu 2005 lalu, memperoleh 25 persen suara, lantas berkoalisi
dengan partai lain sehingga menjadi mayoritas di parlemen. Sekarang awake
dhewe punya tiga menteri di kabinet, yang dipimpin Presiden Runaldo
Ronald Venetiaan. Mereka adalah Menteri Pendidikan Wolf Edwin, yang berayah
ibu orang Jawa. Kemudian Menteri Kesosialan dan Perumahan Hendrik Setrowijoyo.
Aku dhewe maune ya dadi menteri kesosialan lan perumahan. Satu lagi
Menteri Pertanahan Yong Chin Fa, keturunan China tapi anggota Pertjajah
Luhur.
(Bincang-bincang terhenti sebentar karena ada Gusti Dipokusumo dari
Kasunanan Surakarta menyambangi Paul. Beberapa saat mereka berdua terlibat
pembicaraan.)
Anda pernah mengatakan, suatu ketika harus ada orang Jawa yang jadi
Presiden Suriname. Seberapa besar peluangnya?
Ya, bisa dikatakan terbuka peluang untuk itu. Sebab, saat ini yang
memegang kekuasaan sebenarnya, ya orang Jawa. Konstitusi Suriname berbeda
dari Indonesia. Beda banget antarane kana karo kene. Di Suriname,
yang mbiting (memilih) presiden adalah parlemen, bukan directly
(pilihan langsung) oleh rakyat.
Aku inter ngedhukne presiden, kana ora inter ngedhukne aku.
Apa yang dijalankan presiden sekarang, saya melalui parlemen yang memerintahkannya.
Kalau presiden keliru dalam melangkah, dalam menjalankan pemerintahan,
parlemen bisa menjatuhkannya.
Untuk bisa menguasai parlemen juga harus kuat. Karena itu, Petjajah
Luhur yang lahir dari rahim masyarakat Jawa menggandeng partai lain. Tujuannya
apa? Supaya ke depan bisa lebih rosa, lebih kuat.
Dengan kondisi semacam itu, menurut saya, tidak tertutup kemungkinan
mbesuk yen ana karep, akan ada presiden Jawa di Suriname. Itu mungkin
saja dicapai pada bitingan tahun 2010 mendatang.
Apalagi, kalau saya lihat, di ranah politik orang Jawa boleh dibilang
sudah kumpul. Tidak tahu apakah itu bisa dipertahankan hingga 2010 nanti.
Apa urgensi orang Jawa jadi Presiden Suriname? Adakah dampak signifikan
pada perkembangan budaya Jawa?
Sebetulnya, sekarang pun budaya Jawa di Suriname sudah mulai menapak
maju. Paling tidak bisa bertahan selama 115 tahun lebih, sejak kedatangan
orang Jawa pertama pada 1890. Untuk pengembangan itu, amat diperlukan bantuan
dari Indonesia.
Sekarang, awake dhewe mempunyai dua stasiun radio-televisi (RTV),
yaitu RTV Garuda dan RTV Mustika. Lalu ada empat stasiun
radio, yang memiliki program-program Jawa, yakni Garuda, Mustika, Bersama,
dan Pertjajah.
Lagu-lagu dan penyanyi dari Indonesia amat popular di Suriname, juga
bisa disebut sebagai indikator hidupnya budaya Jawa. Misalnya, Didi Kempot,
Mus Mulyadi, atau John Pasta. Masiya ora dunung basa Jawa, akeh wong
Suriname sing seneng lagu Jawa.
Kalau saya jadi presiden, umpamanya, ya pastilah akan mendatangkan
para cerdik pandai dari Jawa, untuk memberikan pelajaran pada warga keturunan
Jawa di Suriname.
Suatu kali, misalnya, perlu juga didatangkan wayang orang ke Suriname.
Sebab di tempat kami, wayang orang sudah punah, wis ora ana maneh.
Yang masih ada, ya wayang kulit. Itu pun dalangnya tinggal beberapa orang,
yang rata-rata sudah berusia lanjut.
(Perlu diketahui, Suriname merupakan sebuah negara kecil, yang terletak
di Amerika Selatan, di selatan Samudera Atlantik. Luasnya hanya 163.270
kilometer persegi. Coba bandingkan dengan Jateng yang luasnya 3,25 juta
hektare. Bekas koloni Belanda itu merdeka pada 25 November 1975.
Dari hasil sensus Algemeen Bureau voor de Statistiek (semacam Badan
Pusat Statistik/BPS) 2003, saat ini, Suriname memiliki penduduk 492.829
jiwa. Keturunan India (Hindustan) paling dominan, disusul keturunan Afrika
(Creole), wong alasan (Maroon), dan Jawa. Sisanya dengan jumlah yang
tidak signifikan, China, Indian, dan Belanda.
Orang Jawa di Suriname berjumlah sekitar 74.000 jiwa atau 15 persen
dari jumlah penduduk Suriname. Mereka umumnya tinggal di perkampungan Jawa,
seperti Distrik Paramaribo, Commewijne, Lelydorp, Nickerie, dan Wanica
. Mereka memiliki bermacam-macam profesi, mulai karyawan, pedagang, guru,
pengusaha, atau politikus seperti Paul Somohardjo. Paul dikenal sebagai
politikus yang menjunjung tinggi budaya Jawa. Dalam kampanye atau pidatonya,
suami Siti Aminah Pardi-duta besar Suriname untuk Kerajaan Belanda-itu
selalu berbahasa Jawa, sebagai pencampur bahasa Belanda dan Sranan Tongo
atau Taki-taki. Sedemikian fanatiknya, dia masih sering mengatakan, “Kita
dados bangsa Djawa, kedah teras nguri-nguri budaja Djawi.”)
Bagaimana kebijakan dan perhatian pemerintah Suriname untuk budaya
Jawa?
Kalau soal itu, sebetulnya terserah atau bergantung karo
awake dhewe. Hanya saja, saya kira perlu kebijaksanaan, dengan mengupayakannya
secara bertahap. Perlu disadari, wong Jawa di Suriname hidup bersama
bangsa lain. Jangan sampai nyolok mata banget, perlu alon-alon lan prayitna.
Seperti yang saya katakan tadi, bisa lewat televisi atau radio.
Jadi yang menghidupkan budaya Jawa di Suriname, rakyatnya bukan
pemerintah?
Pemerintah yang sekarang, dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
kecekel ning awake dhewe, tentu memiliki perhatian yang memadai.
Bagaimana pun, partaiku partainya orang Jawa, menterinya juga orang Jawa.
Lantas bagaimana menghidup-hidupkan kebudayaan Jawa di sana?
Seperti saya katakan, bantuan dari Indonesia amat berarti. Oleh karena
itu, kedatangan saya dan teman-teman ke Kongres IV Bahasa Jawa, pada saat
yang sama juga mengupayakan adanya bantuan semacam itu. Tidak saja berupa
guru-guru, seperti yang pernah kami dapatkan dulu, namun juga buku-buku
untuk pembelajaran dan pewarisan bahasa dan budaya Jawa.
Tapi, saya sendiri ya merasa sayang, melihat di sini basane nganggo
Indonesia, maca koran ya basa Indonesia, ndeleng televisi ya basa Indonesia.
Jadi, berada di Jawa selama beberapa hari ini, saya merasa sayang sekaligus
juga senang.
Senang, karena di sini, anak-anak mudanya masih mau berbahasa Jawa.
Beberapa karyawan hotel yang bertemu saya, juga bisa dan mau berbincang
dengan bahasa Jawa. Di mal atau supermarket juga ngomong Jawa.
Nek aku njaluke, ora prelu isin dadi Jawa Tidak perlu malu menjadi
Jawa. Sewalike, dadi Jawa kudu bingah lan gembira. Saya orang Suriname,
keturunan dari Jawa, sama sekali tidak malu. Saya mengajarkan kepada anak-anak
saya, dan juga anak-anak muda Suriname keturunan Jawa, tidak perlu malu
terlahir sebagai orang Jawa. (Achiar M Permana-35)
| “ADDICT 2006″
FK undip class 2004 proudly present: “Sebuah malam amal untuk membantu para penderita >>>>>>> Terimakasih adik adik FK Angkatan 2004, |
How to Dissuade Yourself from Becoming a Blogger – WikiHow
What
a buzz all the bloggers are making these days! It seems like just about
everybody is pouring their musings into a text box. Are you feeling
tempted to start a blog of your own? Here are some ways to bypass the
trend.
Steps
- Find five completely random blogs, and read them daily for a
month. After thirty days, you will absolutely dread your self-imposed
requirement to read all that dreck. Any blog you create will most
likely be on par with what you’ve been reading. Don’t put anyone
through that. - Consider that your voice, even if it is truly a good one, is
a tiny peep against the massive wave of tripe out there. The odds of
anyone you don’t already know finding your blog are low. - Write on a regular basis in a text editor instead. If that
doesn’t satisfy your urge, and you feel that you must post your blog
online, then you might just be craving attention and validation–which
you’ll never truly find in a blog. If you give up on your Wordpad
journal after about three days, you’ll do the same with a blog that
just takes up server space. - Ask yourself if you really have the time to commit to a
blog. What about that treehouse you wanted to build? Or the book you
wanted to write? Or the car you wanted to fix up? Or the restaurant you
wanted to take your significant other to? Or the new career you wanted
to pursue? Instead of writing about pretty much nothing, or whining
about all the things you wish you were doing instead, start doing
something that’d actually be worth writing about. And if it’s really
worth writing about, you’ll be having too much fun doing it to tear
yourself away from it.
Tips
- Rest easy in the knowledge that it’s perfectly okay and respectable to not have a blog at all.
- If attention and validation are what you’re looking for, know
that you will get neither from blogging. As above, very few people will
ever know that your blog (or you, by proxy) exists. The remainder of
comments posted to your blog will be sappy treacle, which you won’t
trust as being sincere anyway. - Consider writing on a wiki
instead. Unlike most blogs, wikis like Wikipedia and wikiHow are read
by millions of people each month. Several wikiHow authors receive “fan
mail” messages every day from appreciative readers. In addition, many
authors discover that they enjoy the wiki collaborative writing process
more than writing in solitude. - If you plan to use a blog as a way of keeping in touch with a
group of people, such as friends, family, or co-workers, then you may
want to make sure it’s inaccessible to the public (for the public’s
sake as well as yours). Using a message board instead of a blog can
simplify matters and help keep it interactive. - Try participating as a regular commentator to three to five
blogs that you think highly of. This plan has the advantage of writing
for the public along with not doing the publishing oneself.
Warnings
- The information you post on the Internet is likely to linger
for years and years to come, as web pages are archived by “snapshot”
services like the Wayback Machine.
Once it’s out there, you can’t take it back. An employer running a
Google search on your name years down the line might be turned off by
your now documented obsession with your cat. - Keep in mind that, unless you expressly make it otherwise,
blogs are extremely public. This is not your secret diary that you
write your innermost thoughts in because only you have the key and you
wear it around your neck 24/7. If you have stuff that you don’t want
your mom, your best friend, your significant other, your secret crush,
or your cat to know, don’t go blabbing it to complete strangers on the
internet. You cannot assume that the people you don’t want to see what
you’re saying won’t somehow stumble across your blog and know all your
dirty little secrets. If you must record these thoughts for posterity,
do so offline. - You may never know if you enjoy blogging unless you try it.

